Dalam jaman modern ini,gambaran perang yang diilustrasikan dlm
kisah Baratayudha tdk berlaku.Dalam perang perang saudara diantara kubu Kurawa
dan Pandawa,adalah memerlukan palagan,yaitu Kurusetra.Berhadapan para prajurit
kedua kubu saling berhadapan.Prajurit lawan prajurit,Ksatria lawan
ksatria,dengan ada aturan prajurit tidak boleh melukai perwira.Dan persenjataan
yang paling canggih adalah panah dan gendewa,diantara parang,pedang,dan tombak.
Era sekarang,tidak perlu memerlukan palagan.Perang jaman
sekarang,bisa jadi para panglima dan petinggi militer dan pemimpin negara cukup
duduk diantara panel komputer berserver besar,data yang canggih,terkoneksi
dengan satelit,dan terhubung langsung dengan pangkalan peluru kendali dan misil
yang siap melesat ke sasaran.Tidak ada aturan prajurit membunuh kasatria,tdk
pula satu lawan satu.Peluru kendali yang bisa diarahkan dan dikendalikan akan
membabi buta siapa saja yang berada di koordinat sasaran.
Namun “gaya” berperang seperti itu apakah berlaku di negara kita
ini,yang sejatinya sudah sejak 1960 telah mengembangkan tehnologi roket.Apakah
tehnologi roket yg digunakan untuk tehnologi balistik dimana sasaran diarahkan
tempat tertentu yang tidak berpindah,atau lebih hebat lagi tehnologi peluru
kendali,yang mulai sejak melesat diatur secara sistematis,sehingga bisa
mengejar sasaran yang berpindah.Tapi ternyata,menurut Dr.Eng Wahyu Widada
,B.Eng,M.Sc belum satupun percobaan roket yang dilakukan berhasil.Bahkan di
tahun 2010 di Lumajang Jawa Timur,percobaan peluncuran roket nyelonong di
pemukiman penduduk.Wah repot,sasaran tidak kena musuh eh...bisa membinasakan
pihak sendiri.
Dengan alasan tersebut,teman kita Wahyudi dengan di promotori
teman kita juga Wahyu Widada dari Lembaga Pernerbangan dan Antariksa Nasional
(LAPAN)itu,melakukan kegiatan ilmiah dalam upayanya mengembangkan roket
balistik dan rocket kendali(guided rocket).Sang promovendus,Wahyudi melakukan
perancanagan Inertial Measurement Unit (IMU),yang merupakan komponen utama
dalam roket kendali.Karena uji terbang roket kendali yang belum menggunakan
sensor IMU dapat mengakibatkan kegagalan pada saat terbang.
Dalam sidang terbuka,untuk meraih gelar Doktor di Program S3 Doktoral Fakultas Tehnik UGM,teman kita alumniSmansa 88 Klaten ,yang juga dosen FT Undip Semarang,mengajukan Judul Disertasi “Rancang Bangun Sensor Inertial Meausurument Unit (IMU) untuk Roket Kendali LAPAN”.Sebuah upaya fantastis dan luar biasa yang dilakukan seorang pria sederhana,beristrikan Untari ,wanita sholehah dari Purbalingga ,dan 5 orang anak yang semua berkaca minus.Wahyudi adalah Doktor yang ke 42 di Prodip F Tehnik Elektro,ke 168 di F Tehnik,dan ke 2365 dari Universitas Gadjah Mada.
Pada saatnya nanti manakala roket kendali andalan LAPAN RKX200 berhasil menggunakan sensor IMU yang dikembangkan oleh LAPAN.Kita patut berbangga karena disitulah teman angkatan kita Smansa 88 ,duo Wahyu,Wahyudi dan Wahyu,berperan besar di dalamnya.Perancang,pemikir,dan produsen sensor itu adalah 2 manusia hebat yang membanggakan kita semua.
Sebagai rasa kebanggaan dan kenangan,mudah mudahan mereka berdua
berkenan mengabadikan di setiap roket yang dibuat, terdapat tulisan “Viva
Smansa 88Klaten” di ujung roket.Kita wajib bermimpi,sesuai apa yang diimpikan duo
Wahyu.Kami bangga dengan kalian.Kami semua ingin melesat sesuai sasaran roket
roket kalian.........Wahyudi dan Wahyu.
dihadiri perwakilan smansa 88,haris(sebentar lagi doktor,sdh
S2),Dwi harjanto(hampir S2),Edy Iryanto(S2),Joko Triyono(Doktor),dan saya Wawan
(S2,Sales Sambel)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar