Rabu, 26 Oktober 2016

Ini Roketku,Mana Roketmu..........sebuah ilustrasi Pengukuhan Gelar Doktor Wahyudi

Dalam jaman modern ini,gambaran perang yang diilustrasikan dlm kisah Baratayudha tdk berlaku.Dalam perang perang saudara diantara kubu Kurawa dan Pandawa,adalah memerlukan palagan,yaitu Kurusetra.Berhadapan para prajurit kedua kubu saling berhadapan.Prajurit lawan prajurit,Ksatria lawan ksatria,dengan ada aturan prajurit tidak boleh melukai perwira.Dan persenjataan yang paling canggih adalah panah dan gendewa,diantara parang,pedang,dan tombak.


Era sekarang,tidak perlu memerlukan palagan.Perang jaman sekarang,bisa jadi para panglima dan petinggi militer dan pemimpin negara cukup duduk diantara panel komputer berserver besar,data yang canggih,terkoneksi dengan satelit,dan terhubung langsung dengan pangkalan peluru kendali dan misil yang siap melesat ke sasaran.Tidak ada aturan prajurit membunuh kasatria,tdk pula satu lawan satu.Peluru kendali yang bisa diarahkan dan dikendalikan akan membabi buta siapa saja yang berada di koordinat sasaran.

Namun “gaya” berperang seperti itu apakah berlaku di negara kita ini,yang sejatinya sudah sejak 1960 telah mengembangkan tehnologi roket.Apakah tehnologi roket yg digunakan untuk tehnologi balistik dimana sasaran diarahkan tempat tertentu yang tidak berpindah,atau lebih hebat lagi tehnologi peluru kendali,yang mulai sejak melesat diatur secara sistematis,sehingga bisa mengejar sasaran yang berpindah.Tapi ternyata,menurut Dr.Eng Wahyu Widada ,B.Eng,M.Sc belum satupun percobaan roket yang dilakukan berhasil.Bahkan di tahun 2010 di Lumajang Jawa Timur,percobaan peluncuran roket nyelonong di pemukiman penduduk.Wah repot,sasaran tidak kena musuh eh...bisa membinasakan pihak sendiri.

Dengan alasan tersebut,teman kita Wahyudi dengan di promotori teman kita juga Wahyu Widada dari Lembaga Pernerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)itu,melakukan kegiatan ilmiah dalam upayanya mengembangkan roket balistik dan rocket kendali(guided rocket).Sang promovendus,Wahyudi melakukan perancanagan Inertial Measurement Unit (IMU),yang merupakan komponen utama dalam roket kendali.Karena uji terbang roket kendali yang belum menggunakan sensor IMU dapat mengakibatkan kegagalan pada saat terbang.

Dalam sidang terbuka,untuk meraih gelar Doktor di Program S3 Doktoral Fakultas Tehnik UGM,teman kita alumniSmansa 88 Klaten ,yang juga dosen FT Undip Semarang,mengajukan Judul Disertasi “Rancang Bangun Sensor Inertial Meausurument Unit (IMU) untuk Roket Kendali LAPAN”.Sebuah upaya fantastis dan luar biasa yang dilakukan seorang pria sederhana,beristrikan Untari ,wanita sholehah dari Purbalingga ,dan 5 orang anak yang semua berkaca minus.Wahyudi adalah Doktor yang ke 42 di Prodip F Tehnik Elektro,ke 168 di F Tehnik,dan ke 2365 dari Universitas Gadjah Mada.
Pada saatnya nanti manakala roket kendali andalan LAPAN RKX200 berhasil menggunakan sensor IMU yang dikembangkan oleh LAPAN.Kita patut berbangga karena disitulah teman angkatan kita Smansa 88 ,duo Wahyu,Wahyudi dan Wahyu,berperan besar di dalamnya.Perancang,pemikir,dan produsen sensor itu adalah 2 manusia hebat yang membanggakan kita semua.

Sebagai rasa kebanggaan dan kenangan,mudah mudahan mereka berdua berkenan mengabadikan di setiap roket yang dibuat, terdapat tulisan “Viva Smansa 88Klaten” di ujung roket.Kita wajib bermimpi,sesuai apa yang diimpikan duo Wahyu.Kami bangga dengan kalian.Kami semua ingin melesat sesuai sasaran roket roket kalian.........Wahyudi dan Wahyu.


dihadiri perwakilan smansa 88,haris(sebentar lagi doktor,sdh S2),Dwi harjanto(hampir S2),Edy Iryanto(S2),Joko Triyono(Doktor),dan saya Wawan (S2,Sales Sambel)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar